• Rabu, 5 Oktober 2022

Frekuensi Hujan Tinggi Disertai Suhu Dingin, Waspada Datangnya La Nina Serta Dampaknya

- Senin, 1 November 2021 | 18:48 WIB
Ilustrasi kondisi Prakiraan Cuaca Hujan (Unsplash/@wackeltin_meem)
Ilustrasi kondisi Prakiraan Cuaca Hujan (Unsplash/@wackeltin_meem)

Bicarajabar.comBadan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan adanya peningkatan curah hujan mulai November hingga Januari terutama di wilayah Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali hingga NTT, Kalimantan bagian selatan dan Sulawesi bagian selatan.

Hal ini terjadi diduga karena adanya La Nina yang memengaruhi cuaca di seluruh dunia. Menurut National Weather Service, La Nina ini mengacu pada pendinginan berkala suhu permukaan laut bagian Samudera Pasifik timur dan tengah.

Biasanya, peristiwa terjadi setiap 3 sampai 5 tahun atau lebih, tetapi kadang-kadang dapat terjadi selama beberapa tahun berturut-turut.

Baca Juga: Prakiraan Cuaca Hari ini di Jawa Barat, Waspada Potensi Hujan Disertai Petir 

La Nina berdampak pada peningkatan curah hujan bulanan sebesar 20 - 70% di atas normalnya. Selain itu perlu diwaspadai potensi lanjutan dari curah hujan tinggi yang dapat memicu bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, banjir bandang, angin kencang atau puting beliung ataupun badai tropis.

Menurut hasil monitoring nilai anomali telah melewati ambang batas La Nina, yaitu sebesar -0.61 pada Dasarian I Oktober 2021. Kondisi ini berpotensi untuk terus berkembang dan kehadiran La Nina diperkirakan akan berlangsung dengan intensitas lemah - sedang, setidaknya hingga Februari 2022.

Pada Jumat (29/10/2021) lalu, BMKG juga telah menyelenggarakan Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) untuk mengantisipasi dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi La Nina dan potensi bencana hidrometeorologi.

Baca Juga: Menuju Energi Ramah Lingkungan, Upaya dalam Menghadapi Isu Perubahan Iklim

Berdasarkan informasi pada laman resmi climate.gov, memprediksi siklus La Nina memang sangatlah penting untuk merencanakan, menghindari, atau mengurangi potensi kerusakan di setiap sektor masyarakat, termasuk pertanian, perikanan, energi, air, transportasi, dan perawatan kesehatan.

Halaman:

Editor: Agasthya Kuswandi

Tags

Artikel Terkait

Terkini

10+ Contoh Hasil Hutan Indonesia dan Manfaatnya

Senin, 26 September 2022 | 21:04 WIB
X