• Senin, 27 September 2021

Perubahan Iklim: Populasi Hiu dan Ikan Pari Terus Merosot, Terancam Punah

- Senin, 13 September 2021 | 19:23 WIB
Unsplash.com/Marcelo Cidrack
Unsplash.com/Marcelo Cidrack

Bicarajabar.com - Dalam kurun waktu 50 tahun terakhir,jumlah hiu yang ditemukan di laut terbuka menyusut hingga 71%, menurut sebuah penelitian terbaru. Tiga perempat spesies hiu yang diteliti sekarang terancam punah.

Populasi hiu dan pari pun terus menurun karena tekanan dari penangkapan besar-besaran untuk dikonsumsi daging dan siripnya. Selain itu, faktor perubahan iklim dan juga polusi di dalam laut mempengaruhi menurunnya populasi hiu dan pari.

Dari 31 jenis hiu yang diteliti, 24 diantaranya saat ini diambang kepunahan, dan tiga jenis hiu (hiu putih, hiu martil, dan hiu martil besar) jumlahnya telah menurun tajam, sehingga mereka sekarang diklasifikasikan terancam punah - kategori ancaman tertinggi, menurut International Union for Conservation of Nature (IUCN).

"Kami kehilangan kelompok makhluk purba ini, mulai kehilangan spesies demi spesies di sini, saat ini, kami sangat membutuhkan tindakan segera," ujar Andy Cornish, pimpinan program hiu di organisasi konservasi WWF, dilansir dari BBC, Senin (13/9/2021).

Baca: Sejarah Konservasi dalam Hukum, Budaya, dan Agama

Prof Nicholas Dulvy dari Simon Fraser University di British Columbia, Kanada, mengatakan hiu dan ikan pari di laut lepas, berada pada risiko kepunahan yang sangat tinggi, jauh lebih parah dari burung, mamalia atau katak.

"Penangkapan hiu dan pari yang berlebihan, membahayakan kesehatan ekosistem laut secara keseluruhan, termasuk ketahanan pangan untuk beberapa negara miskin dunia," ucap Dulvy.

Hiu sendiri merupakan predator yang berada di puncak rantai makanan. Keberadaannya sangat krusial bagi kesehatan lautan. Kepunahan mereka berdampak terhadap hewan laut lainnya, yang merupakan sumber makanan bagi manusia.

Sementara itu, setelah tertunda selama satu tahun, Kongres Konservasi Dunia akan kembali digelar. Selama sembilan hari, sejumlah LSM, pemerintah, dan juga masyarakat adat yang didukung oleh jaringan 16 ribu ilmuwan membuat proposal konservasi yang dapat mengatur agenda pertemuan puncak PBB tentang keanekaragaman hayati dan perubahan iklim.

Halaman:

Editor: Anisa Sri

Sumber: BBC

Tags

Terkini

Terpopuler

X